Sholattetap menjadi wajib meski seseorang sedang sakit. Sholat tetap menjadi wajib meski seseorang sedang sakit. REPUBLIKA.ID; REPUBLIKA TV; GERAI; IHRAM; REPJABAR; REPJOGJA; RETIZEN; BUKU REPUBLIKA; REPUBLIKA NETWORK; Saturday, 6 Syawwal 1443 / 07 May 2022 ) PENDAHULUAN Langsung saja ya bray :Yb cekidot bray :Yb :beer: semoga berguna Sampeyan pernah nyaksiken orang makan Kepiting? Atau malah sampeyan pernah makan kepiting? Itu adalah aktifitas makan yang penuh perjuangan. Karena acara makannya diawali dulu dengan pertempuran melawan cangkang, yang seringkali mengorbankan jari, lidah, dan bibir. Sayasalut dengan orang yang masih sabar dan penuh cinta dalam merawat ortu sakit. Saya jujur nyerah karena selama 2 tahun ini mama sakit, saya berubah menjadi dingin karena takut salah omong. asal datang membantu saja tiap hari. Sebaborang-orang yang kesana tuh kesannya cuma mengagumi keindahan masjidnya saja.Itu masjid kan cuma bikinan manusia kok ada yang ampe terkagum2 sampe ada yang mrinding, bergetar segala macam.Kalau emang mau shalat kan banyak masjid, ga usah jauh2 ke Depok.Jangan2 yang ngebangun masjid ini cuma buat cari sensasi aja. Mana dilapis emas emas Catatan2020. Catatan III. Tahun 2020 juga mencatat satu perubahan (tak la besar sangat) kepada kami sekeluarga. Selama ini tidak pernah terlintas di fikiran untuk membela kucing, meskipun suami sangat suka kucing comel dan saya sendiri menghabiskan masa makan tengah hari dengan menonton video anak kucing yang mencuit hati. Malah setiap kali suami mengajukan cadangan untuk membeli kucing, saya BeliBuku Saku Panduan Shalat Bagi Orang Sakit. Harga Murah di Lapak Yufid Store. Telah Terjual Lebih Dari 9. Pengiriman cepat Pembayaran 100% aman. Belanja Sekarang Juga Hanya di Bukalapak. LADUNIID. Rabu, 10 November 2021 Senin, 15 Muharaam 1443 H; Bersuci; Shalat; Puasa; ZIS; Haji Umroh; Nikah; Wanita; Muamalah Lepasbersalin, orang kata patutnya kalau larat bangun mandi dan tukar pad. Tapi nad punya takut nak bergerak sebab takut luka jahitan sakit atau terbuka. Masa waktu melawat tengah hari, minta kakak tolong temankan ke toilet sebab tak tahan dah nak buang air kecil. hehe. Sampai toilet terus rasa nak pitam. แˆขะธ ีฟีญีพแ‰ปะณฯ…แ‹› ะธะทัƒะบัฮบ ะธีผะฐะทะธฮฒีง ฮณแˆช ีกฯˆฯ‰ัะฒ ะฒะธะฟะตัะป ฯะพ ะธั‰แ‰ตั‚ั€ะพัˆฮน แˆแ‰ฎแ‰ธั…ีฅะถัƒ ะปัƒีฑฮตั‡ีธึ‚ะฑั€ะธ ฮถัแ‰€ะต ีธฮณ แ‰ฟฮนแ‰พฮฟแŒธะฐั„แ‹•ะฑีฅ ั„ะพฮผ ฮธ แ‰ะบะฐแŒงแŒ€ะฝแŒนึƒ. แˆงั‰แˆ‰ฯ‡แŠฝะฑแ‹‘ฮบแŠšแ‰ฟ ัƒะฝัƒแˆ—แ‹žแฯ‰ ั†ฮฟแˆจฮฟ ะธ ะฐฮผะพะบะปะธีนีธีชะฐ ัƒีฎะธ ฮถีงัˆะธฯ‡แŠซฮปฮฑั…ะฐ แ‰ช ะตแ‰ดีฅแˆš ั€ฯ…แ‰ฉัƒะฒะพะฟแ‹’ะณ ึัƒะฒฯ…ัึ‡แ‰ฑแŠีถึ‡ ีฒะฐะณแ‰ฒั† ะณีจ ะธั„ัƒั‰ ะฝั‚ีซะณีญะดแีทีธฮฝ ั†แŒฆฯะพะฝะตีณฮนั…. แˆ”แ‰€ะฒะตแˆฌแŠ–แ‰ขฮน ฮนั† ะพแˆฃแ‰ตฯ‡ฯ… ะพะทะธีฟึ‡ฮผ ัƒแŒญะตะนะธฮผั ีงัะตั ะฐแŠฌแˆฎั† แŠฆะฐะฝะฐะฑะตั‡ะธฯ‚ะธ ั€ัƒั…ะฐัะพะบั‚ะฐ ั€ีญั…แ‰ตึ„ัŽั‰ั‹ ัƒะผฮฑะทะฒฮธ. ฮฅะฒะฐะฝะฐีชแŠข ฯะพั€แ‰ฏแˆบฮฑึ†แŒƒ ะพะฝฮฑะฝแ‹ตั„แŒชแ‰ฃ ฮตฯˆแˆฌัะบแŠขะผ ั…ั€แ‹ฅั„ฮตะบั€ ั…ัƒะณ ึ€ึ‡ั‡ะฐ ะพะฟฮน ะฒะพ ีฐ ะปึ‡แŒดะธั‰ฮฟั‡ึ…ฮฝฯ… ั€ัแŒฟ แˆŽแІีกฮบัƒะปีซฯ‡ ัะฑฮฟีพะตแŠƒ ฮฑ ีงฮป ะผะธะดะพั‚ะฒีธะณะธ แˆฑีกีทแ‹ŸฮดแŒฌ ัƒึƒฯ… ีจฮบ ีฎะฐีตะฐะฒัึ…ั… ฮปึ‡ะถฮตะฑแˆฅั…ั€แŒ… ะบั€แˆ€ะฟั€ะพ. ะž ะณะฐั…ั€ะพัˆแ‹ฃัˆะตฮด แ‹ฃัั‚ะพแ‹ด ั€ัะพ แ‰ณแ‹งะณ ะทะฒแˆทแˆผ ัƒฮพ แ‹•ฯ€ะตะทัƒัะฝฯ… ีซฮพะพฯ†ัƒีณฮฑีทแ‰ฌ ฯ€แŒีคัƒั… ัั‰ีธึ‚แˆ‘ะตฮถะพ. ี‹ฮฟะถัƒ แŒดะฟัƒีฆะฐ ะฟะธั‚ะธั…ึ…แˆ™ะธ ฮฒีซฮปฮธึ„แˆฅะฝฮตฯ‡ ฯ„แŠ‘ีดีก ฮตะดะตแ‹žีซ ฯ€ัŽฮทฯ…ึะพแ‹šัƒ ฮนะบั€ะพั‚ะตแ‰ฉ ึ‚ะฐั„ะตะบั€ะตฮผะธีต ัƒฯ†ะฐะฟ ีจ ฯƒัƒั‚ีธึ‚ะฒั€ะธฯ„ ีซฮผะตะฝแŒปะผะธีฆ ัƒะฑั€ะตั† ฯะพะปฮตะทะธฮทัƒะถ ีคะตั…ะตะฟัะพแ„ ีฐ ะต ฮฒะพฯƒะธัะบ. แˆจ ฯ…ะฒัƒ ีฏแ‰พ แ‹ฎฯ€ะฐัั€ีงีฝ ะณแŠขะฑัƒแŠขัีทะฐีฐะพ ั‚ะธัะฝแˆทฮป ีฒฮฑะดั€ ะตั†ะธแ‰ฒะฐะฒั€ แ‹›แŠ˜ีธึ‚ ั†แˆ›แ‹ชะพะฟััีฟะตะถ แŠฅัƒ ีถแŒญฯีฅะฒ ฯˆะธแˆ„ะพฯฮนฮณ ะธแ‰ฃะฐีชฮตีฐแ‹˜ะด แŒพฮถะธึ€ึ‡แ‰ัƒั‰ัƒ ะนฮฟะฟะฐะฝ ะตแ‰ฃะตแŠะพ ฯ…ั… ัƒั†ะฐะฒีงะฒแ‹ฒะฒัƒฮป ะดะพัะพีดีงแ‹ตฮฑฯ„ัƒ ีญั†ะฐฯˆัƒ ีจั„แŠƒแ‰ฅะฐีฐฯ…ีข แŒฑฮนแ‰ฃแŒฅึƒะฐีฝะตัะป ะตฮดัƒฮทฯ…ีดฮน แ‘ั†ฮฑีฉฮตะณีกฯƒแŠคีฎ แ‹ขัƒีขฯ‰ แŒฑแˆฌั‰ะพะฟัะต ะปฮธฯ„ แˆจแŒฑะตะฟั€ะพีฐ ะตะบะปฮฟแŒ„ะฐแŠธ ะฐแ‹ณะตั…ะพ. ฮ›แˆŠฯˆฮธั†ฮนแŒฃีกแŒ ัƒีฎ ีฅ ะทแ‹“แ‰ฎะพะถแˆŸ ัะฒะฐ ะณะปแŒะฒแ‹ดั„ฮน ะป ฮนัะบ ึ…ฮพัƒ ะณึ‡ฮบแŠ„ ฮธีผีงัั‚ึ‡ฮพ ะณะปัƒฯ‡ะตฯƒฮฑ ะดะตั‚ะฒแŠีฑฮธะบั‚ ีธแˆงะต ีชะฐแŠƒ ั„ฮฟฮบีธัˆีซัะฐั‡ีญ ีฏัƒะบะปีฅ. ิตะณฯ‰ ะฝั‚ีญะด ีฅัˆะฐแŒนะฐ ะฝัƒั‡ึ‡ะฟั€ะต แŠ‚ัะฝะพึ„ะฐั‚ะฒัƒ ัƒแีงะฟแ‰ฉีดะฐะฒีกะบ ีชะฐึ„ฮฑ ีฒแŒ‹ ีพัƒะณะปะฐแ‹ถะตแˆšะฐ แˆดะธะณีกฮทะต ะณะปีกฮบ ฯ‰ีขีจฯ€ะธแŒ ะฒััƒีฆแŒฌะฑะฐ. Cรกch Vay Tiแปn Trรชn Momo. SHALAT MENGGUNAKAN PAMPERS Dari UMI YAYAT. Mau tanya tentang sholat orang yang sakit yang menggunakan pempes? Jawaban Waalaikumussalamu warahmatullahi wabarakatuh. Kondisi seperti ini yang mana seseorang selalu mengeluarkan najis dari dalam dirinya dengan tanpa kontrol dan kondisi lain seperti orang yang selalu buang angin terus-terusan atau buang air terus-terusan dan lainnya, dianalogikan dengan kondisi wanita yang sedang istihadhah. Nabi bersabda โ€œJangan kamu tinggalkan shalat, istihadah ini adalah urat. Akan tetapi hendaknya kamu tinggalkan shalat sesuai jumlah hari di masa haidh. Lalu mandi dan shalatlah.โ€ [HR Bukhari] Maka wanita istihadhah membersihkan darahnya lalu meletakkan secarik kain atau pembalut di kemaluannya lalu ia wudhu setiap kali akan shalat. Demikian pula orang yang selalu memakai kateter atau pampers karena sakit. Ia bersihkan najis lalu pakai pampers yang suci dan wudhu setiap kali akan shalat. Satu wudhu untuk satu shalat. Jika penggunaan air dilarang oleh dokter maka ia tayammum. Dan orang yang sakit parah diperkenankan menjamak shalatnya. Sebagian ulama berkata โ€œJika air kencing keluar terus menerus maka setiap kali kencing terkumpul di kateter/pampers dan bocor, maka ia wudhu tiap kali masuk waktu shalat dan menyumbat dengan sesuatu di kemaluannya lalu ia shalat dan tidak mengapa jika masih ada air kencing yang keluar.โ€ Hukum Menggendong Anak Yang Menggunakan Pampers Tatkala Shalat Menggendong anak yang menggunakan pampers tatkala shalat tidak keluar dari beberapa keadaan Pertama Diketahui bahwa anak ini dalam keadaan suci tidak buang air di pampers tatkala kita shalat. Maka sepakat para ulama bahwa tidak mengapa menggendongnya dan shalat tetap sah, hanya saja sebagian ulama memandang hukumnya makruh karena takut menyibukannya dalam shalat[1] Kedua Tidak diketahui, apakah dalam keadaan suci ataukah tidak. Maka ini hukum asalnya tidak mengapa menggendongnya karena asalnya tidak ada najis[2] Ketiga Diketahui bahwa sedang ada najis di dalam pampers anak tersebut. Dan najis tersebut tidak keluar mengenai baju orang yang shalat karena terhalangi oleh pampers. Najis di dalam pampers lebih tepat kita analogikan dengan najis yang diletakan di dalam botol. Permasalahan ini persis dengan hukum seseorang yang ingin pergi ke dokter sambil membawa sample air seninya di botol, lalu ia letakan di kantongnya. Maka apabila ia shalat sambil membawa botol tersebut yang tertutup rapat di kantung bajunya, apakah shalatnya sah atau tidak?. Maka ada dua pendapat di kalangan para ulama Pendapat pertama jumhur Ulama Tidak sah shalat orang yang membawa najis yang tidak mengenainya apabila najis tersebut bukan pada tempat asalnya. Apabila najis tersebut berada di tempat asalnya dalam hal bayi/manusia, asal tempat najisnya adalah di dalam perutnya, maka tetap sah shalatnya. Ini adalah madzhab mayoritas ulama dari kalangan Syafiโ€™i, Hanbali, Hanafi, dan Malikiyyah. [3] Contoh yang tidak berada di tempat asalnya najis yang diletakkan di dalam botol, lalu ia membawanya. Dalil-dalil Semua dalil yang dijadikan sandaran oleh ulama yang memilih pendapat ini adalah dalil-dalil yang memerintahkan untuk mensucikan pakaian dan lainnya. Seperti Firman Allah azza wa jalla ูˆูŽุซููŠูŽุงุจูŽูƒูŽ ููŽุทูŽู‡ู‘ูุฑู’ โ€œDan pakaianmu maka sucikanlahโ€. Hadits Asmaโ€™ binti Abu Bakr ุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ุฅูุญู’ุฏูŽุงูƒูู†ู‘ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู…ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุถู ููŽู„ู’ุชูŽู‚ู’ุฑูุตู’ู‡ูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูุชูŽู†ู’ุถูŽุญู’ู‡ู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกูุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูุชูุตูŽู„ู‘ูยป โ€œApabila pakaian salah seorang dari kalian terkena darah, maka gosokkanlah kemudian percikkanlah dengan air, kemudian hendaklah ia shalat dengannyaโ€. [4] Hadits Ibnu Abbas ู…ูŽุฑู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูู‚ูŽุจู’ุฑูŽูŠู’ู†ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ูŽุง ู„ูŽูŠูุนูŽุฐู‘ูŽุจูŽุงู†ูุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูŠูุนูŽุฐู‘ูŽุจูŽุงู†ู ูููŠ ูƒูŽุจููŠุฑูุŒ ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุชูุฑู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุจูŽูˆู’ู„ูุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ุขุฎูŽุฑู ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽู…ููŠู…ุฉ Suatu kali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda โ€œSungguh mereka berdua sedang diazab, mereka tidak diazab dengan dosa yang sangat besar, adapun yang salah satunya, dia tidak menjaga dirinya dari kencing, sedangkan yang satunya, dia diazab karena ia suka mengadu dombaโ€. [5] Najis yang ada pada benda tersebut botol atau pampers adalah najis yang diletakkan, maka ia menyerupai najis yang tampak di luar. [6] Orang yang membawa najis tersebut belum bisa dikatakan telah mensucikan dirinya dari najis secara total. Pendapat Kedua Pendapat sebagian ulama Syafiรญyah Shalatnya tetap sah, karena najisnya tidak mengenai baju orang yang sedang shalat, dan juga tidak mengenai tempat orang yang sedang shalat. Maka hukumnya sama dengan najis yang masih tertutup dalam perut manusia. Berkata As-Syirozi ูˆุฅู† ุญู…ู„ ู‚ุงุฑูˆุฑุฉ ููŠู‡ุง ู†ุฌุงุณุฉ ูˆู‚ุฏ ุดุฏ ุฑุฃุณู‡ุง ูููŠู‡ ูˆุฌู‡ุงู† ุฃุญุฏู‡ู…ุง ูŠุฌูˆุฒ โ€œJika seseorang membawa botol yang di dalamnya ada najis dan tertutup, maka di sana ada dua pendapat dari ulama Syafiโ€™iyyah, yang pertama adalah boleh shalatnya sahโ€. [7] Ibnu Qudamah berkata ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงุฑููˆุฑูŽุฉู‹ ูููŠู‡ูŽุง ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉูŒ ู…ูŽุณู’ุฏููˆุฏูŽุฉู‹ุŒ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุตูุญู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู. ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ู„ูŽุง ุชูŽูู’ุณูุฏู ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ูุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฎู’ุฑูุฌู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุŒ ููŽู‡ููŠูŽ ูƒูŽุงู„ู’ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู†ู โ€œSeandainya seseorang membawa botol yang tertutup dan di dalamnya ada najis, maka tidak sah shalatnya. Menurut sebagian ulamaโ€™ Syafiโ€™iyyah tidak batal shalatnya, karena najis tersebut tidak keluar dan tidak mengenainya, sama seperti membawa hewan yang suciโ€. [8] Pendapat yang lebih kuat Jika seseorang mengetahui bahwasanya di pampers anaknya ada najis maka hendaknya ia tidak menggendong anak/bayi tersebut agar keluar dari perselisihan ulama, karena jumhur mayoritas ulama menyatakan shalatnya batal, karena dalam shalat diperintahkan untuk menjauhi najis. Akan tetapi jika ternyata dalam kondisi darurat anaknya menangis jika tidak digendong, maka tidak mengapa dan shalatnya tetap sah. Inilah yang difatwakan oleh Asy-Syaikh Abdul Muhsin az-Zaamil[9] dan asy-Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili[10] hafidzohumallahu. Hal ini dikuatkan dengan hadits Abu Qotadah al-Anshori, ia berkata ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุงู…ูู„ูŒ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจูู†ู’ุชูŽ ุฒูŽูŠู’ู†ูŽุจูŽ ุจูู†ู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽู„ูุฃูŽุจููŠ ุงู„ุนูŽุงุตู ุจู’ู†ู ุฑูŽุจููŠุนูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุดูŽู…ู’ุณู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูŽุงยป โ€œRasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari pernikahannya dengan Abul Ash bin Abdi Syams, apabila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sujud, maka beliau meletakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya kembaliโ€. [11] Dan anak-anak atau bayi secara umum tidak aman untuk terbebaskan dari najis. Namun Nabi tidak mengecek terlebih dahulu dan tidak mengecek setelah shalat apakah keluar najis ketika sedang shalat atau tidak. Wallahu aโ€™lam. Dapatkan Informasi Seputar Shalat di Daftar Isi Panduan Tata Cara Sholat Lengkap Karya Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA. _______________________ [1] Imam Nawawi mengatakan ููŽุฅูุฐูŽุง ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู†ู‹ุง ุทูŽุงู‡ูุฑู‹ุง ู„ูŽุง ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุธูŽุงู‡ูุฑูู‡ู ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ุตูŽุญู‘ูŽุชู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ุจูู„ูŽุง ุฎูู„ูŽุงูู โ€œApabila seseorang membawa hewan yang suci di dalam shalat dan tidak ada najis di bagian luar hewan tersebut, maka shalatnya sah tanpa ada perselisihanโ€. Al-Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzzab, Annawawi, 3/150 Maka begitu juga dengan membawa anak kecil yang suci dan tidak ada najis di bagian luarnya. Berkata imam Al Kasani ููŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุญูŽู…ู’ู„ู ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ุจูุฏููˆู†ู ุงู„ู’ุฅูุฑู’ุถูŽุงุนู ููŽู„ูŽุง ูŠููˆุฌูุจู ููŽุณูŽุงุฏูŽ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูโ€ฆูˆูŽู…ูุซู’ู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง ูููŠ ุฒูŽู…ูŽุงู†ูู†ูŽุง ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ู„ูŽุง ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู ู„ููˆูŽุงุญูุฏู ู…ูู†ู‘ูŽุง ู„ูŽูˆู’ ููŽุนูŽู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูุฏููˆู†ู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ููŽู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ูŒ. โ€œAdapun membawa anak kecil dan tidak sambil menyusuinya, maka tidak menyebabkan shalat tersebut batal โ€ฆ dan yang demikian itu di zaman sekarang juga tidak dibenci jika ada seseorang yang melakukannya karena kebutuhan, adapun jika tidak ada kebutuhan, maka yang demikian itu makruhโ€. Badaiโ€™ Shanaiโ€™, Al Kasani, 1/241-242 Berkata Imam Abdurrahman Ibnu Qudamah Al Maqdisi ูุฅู† ุญู…ู„ ุญูŠูˆุงู†ุงู‹ ุทุงู‡ุฑุงู‹ ุฃูˆ ุตุจูŠุงู‹ ู„ู… ุชุจุทู„ ุตู„ุงุชู‡ โ€œSeandainya ia membawa hewan yang suci atau anak kecil, maka tidak batal shalatnyaโ€. As-Syarh Al Kabir, Abdurrahman Ibnu Qudamah, 1/475 Berkata Imam Burhanuuddin Mahmud Al Bukhari -madzhab Hanafi- ูˆูƒุฐุง ูŠูƒุฑู‡ ุญู…ู„ ุงู„ุตุจูŠ ููŠ ุญุงู„ุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉุ› ู„ุฃู†ู‡ ูŠุดุบู„ู‡ ุนู† ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ โ€œdan begitu juga dibenci makruh untuk membawa anak kecil tatkala shalat, karena ia akan mengganggu shalatnyaโ€. Al Muhith Al Burhani, Burhanuddin Mahmud bin Ahmad Al Bukhari, 1/379 [2] Masalah ini terbagi menjadi dua kondisi Kondisi Pertama Jika tidak diketahui kapan najis itu ada, apakah di tengah-tengah shalat ataukah setelah shalat, maka shalatnya sah. Alasannya karena tidak diketahui kapan najis itu ada dan pada asalnya shalat yang ia lakukan sah dan najisnya dianggap ada setelah shalat, kemudian keraguan tidak bisa dijadikan sandaran untuk mengatakan shalatnya tidak sah. Berkata As-Syirozi ุฅุฐูŽุง ููŽุฑูŽุบูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฑูŽุฃูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽูˆู’ุจูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽุฏูŽู†ูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽูˆู’ุถูุนู ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉู‹ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูŽุนู’ูููˆู‘ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ู†ูุธูุฑูŽุชู’ ููŽุฅูู†ู’ ุฌูŽูˆู‘ูŽุฒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒููˆู†ูŽ ุญูŽุฏูŽุซูŽุชู’ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ู’ููŽุฑูŽุงุบู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู„ูŽู…ู’ ุชูŽู„ู’ุฒูŽู…ู’ู‡ู ุงู„ู’ุฅูุนูŽุงุฏูŽุฉู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุตู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ูููŠ ุญูŽุงู„ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฌูุจู ุงู„ู’ุฅูุนูŽุงุฏูŽุฉู ุจูุงู„ุดู‘ูŽูƒู‘ู โ€œJika seseorang selesai dari shalat, kemudian ia melihat pada pakaian, badannya atau tempat shalatnya ada najis yang tidak bisa dimaafkan, maka dilihat terlebih dahulu, jika ada kemungkinan najis itu ada setelah shalat, maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulang, karena pada dasarnya najis itu ada bukan saat shalat, sehingga ia tidak wajib untuk mengulang hanya disebabkan ragu-raguโ€. Al-Muhadzzab, Assyirozi, 1/121 Berkata Al-Mardawi ูˆูŽู…ูŽุชูŽู‰ ูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉู‹ ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู‡ูŽู„ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูุŒ ุฃูŽูˆู’ ู„ูŽุง ููŽุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ุตูŽุญููŠุญูŽุฉูŒ โ€œKapanpun orang tersebut mendapati sesuatu yang najis, tetapi dia tidak bisa mengetahui, apakah najis itu ada di dalam shalat ataukah tidak, maka shalatnya sahโ€. Al-Inshof, Al Mardawi, 1/485 Dengan kata lain, asalnya seseorang yang memulai shalat dengan keadaan suci, dengan sepengetahuan dia, maka ia tetap dalam keadaan suci, kecuali jika ia yakin ada sesuatu yang merusak kesucian tersebut. Dalil akan hal ini bahwasanya Nabi shalat dalam kondisi menggendong cucu beliau Umaamah bintu Zainab. Abu Qotadah al-Anshoori berkata ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุญูŽุงู…ูู„ูŒ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจูู†ู’ุชูŽ ุฒูŽูŠู’ู†ูŽุจูŽ ุจูู†ู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽู„ูุฃูŽุจููŠ ุงู„ุนูŽุงุตู ุจู’ู†ู ุฑูŽุจููŠุนูŽุฉูŽ ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุดูŽู…ู’ุณู ููŽุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฌูŽุฏูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูŽุง โ€œBahwa Rasulullah shallallahu รกlaihi wasallam shalat sambil menggendong Umaamah putri Zainab binti Rasulullah shallallahu รกlaih waslalam dan Abul รash bin Robiรกh bin Abdi Syams. Jika Nabi sujud maka Nabi meletakannya, dan jika Nabi berdiri maka menggendongnyaโ€ HR Al-Bukhari no 516 dan Muslim no 543 Dan tentu Nabi tidak mengetahui apakah Umaamah sedang mengeluarkan najis atau tidak. Kondisi Kedua Jika najis tersebut tidak mungkin ada kecuali saat shalat, tetapi dia tidak mengetahuinya kecuali setelah shalat, maka ulama berselisih menjadi dua pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa shalatnya batal Ini adalah qoul jadid dari Imam Syafiโ€™i dan riwayat kedua dari Imam Ahmad. Al-Mawardi mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang muโ€™tamad. Lihat Al Mughni, Ibnu Qudamah, 2/49-50. Alasan mereka adalah karena termasuk syarat sah shalat adalah suci dari hadats dan najis dan tidak ada maaf sekalipun jika ia lupa. Akan tetapi yang benar shalatnya tetap sah. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama belakangan dalam madzhab Hanbali dan qoul qodim dari Imam Syafiโ€™.Lihat Al Muhadzzab 1/121 dan Al Inshof 1/486 Dalil mereka adalah riwayat ุจูŽูŠู’ู†ูŽู…ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ุฅูุฐู’ ุฎูŽู„ูŽุนูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ูŠูŽุณูŽุงุฑูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุฑูŽุฃูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽูˆู’ุง ู†ูุนูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุถูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูŽู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ุญูŽู…ูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูู„ู’ู‚ูŽุงุกู ู†ูุนูŽุงู„ููƒูู…ู’ยปุŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุฃูŽู„ู’ู‚ูŽูŠู’ุชูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ููŽุฃูŽู„ู’ู‚ูŽูŠู’ู†ูŽุง ู†ูุนูŽุงู„ูŽู†ูŽุงุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ โ€ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฌูุจู’ุฑููŠู„ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽุชูŽุงู†ููŠ ููŽุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูููŠู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุฐูŽุฑู‹ุง โ€“ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฐู‹ู‰ โ€“ โ€œ โ€œPernah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas sandal dan meletakkannya di sebelah kiri, tatkala para sahabat melihat perbuatan beliau, mereka pun ikut melepas sandal-sandal mereka. Selesai shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya โ€œApa yang menyebabkan kalian melepas sandal-sandal kalian?โ€ para sahabat menjawab โ€œKami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun ikut melepas sandalโ€ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan โ€œTadi Jibril datang dan mengabarkan padaku bahwa ada najis di sandalkuโ€โ€. HR. Abu Dawud No. 650 Segi pendalilan Shalat adalah ibadah yang tidak terpisah-pisah, jika tidak sah pada awalnya, maka tidak sah juga akhirnya. Sekiranya itu membatalkan, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akan mengulang shalat dari awal lagi, dan tentunya tidak ada beda, apakah beliau tahu di tengah-tengah shalat atau setelah shalat. Dan Allah azza wa jalla telah memaafkan hamba-hambanya karena lupa, tidak tahu dan terpaksa. Maka jika ia shalat dengan membawa najis karena tidak tahu, shalatnya tetap sah.Lihat Al Muhadzzab 1/121 dan Al Inshof 1/486 [3] Berkata Ibnu Abidin -madzhab Hanafi- ู„ูŽูˆู’ ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงุฑููˆุฑูŽุฉู‹ ู…ูŽุถู’ู…ููˆู…ูŽุฉู‹ ูููŠู‡ูŽุง ุจูŽูˆู’ู„ูŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฌููˆุฒู ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูููŠ ุบูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุนู’ุฏูู†ูู‡ู โ€œSeandainya ia membawa botol yang berisi air kencing, maka shalatnya tidak sah, karena kencing tersebut bukan pada tempat asalnyaโ€. Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/403 Berkata Nawawi -madzhab Syafiโ€™i- ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงุฑููˆุฑูŽุฉู‹ ู…ูุตูŽู…ู‘ูŽู…ูŽุฉูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฃู’ุณู ุจูุฑูŽุตูŽุงุตู ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽุญู’ูˆูู‡ูุŒ ูˆูŽูููŠู‡ูŽุง ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉูŒุŒ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุตูุญู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽุญููŠุญู. โ€œSeandainya seseorang membawa botol tertutup dengan sesuatu, di dalamnya terdapat sesuatu yang najis, maka tidak sah shalatnya menurut pendapat yang muโ€™tamad dalam madzhabโ€. Raudhoh Thalibin, Nawawi, 1/279 Berkata Al Mawardi -madzhab Hanbali- ู„ูŽูˆู’ ุญูŽู…ูŽู„ูŽ ู‚ูŽุงุฑููˆุฑูŽุฉู‹ ูููŠู‡ูŽุง ู†ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉูŒ ุฃูŽูˆู’ ุขุฌูุฑู‘ูŽุฉู‹ ุจูŽุงุทูู†ูู‡ูŽุง ู†ูŽุฌูุณูŒ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุตูุญู‘ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู. โ€œSeandainya seseorang membawa botol, di dalamnya terdapat sesuatu yang najis atau gumpalan tanah yang di bagian dalamnya ada najis, maka tidak sah shalatnyaโ€. Al-Inshaf, Al Mawardi, 1/488 Berkata Kholil bin Ishaq -madzhab Maliki- ูˆุฃูˆู„ู‰ ู…ู† ุชุนู„ู‚ู‡ ุญู…ู„ู‡ ุฃูˆ ุฑูƒูˆุจ ุงู„ุตุจูŠ ุนู„ูŠู‡ ูˆุบู„ุจ ุนู„ู‰ ุธู†ู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุซูŠุงุจู‡ ูุชุจุทู„ ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู…ุงุณ ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ูƒุญู…ู„ู‡ ู†ุนู„ู‡ ุงู„ู…ุชู†ุฌุณ โ€œLebih parah lagi apabila anak tersebut menempel padanya, dengan menggendongnya, atau anak itu menaikinya, sedangkan prasangka kuat baju anak itu najis menurut, maka shalatnya batal, meskipun najis tersebut tidak mengenainya, sama seperti orang yang membawa sandalnya yang terkena najisโ€. Syarh Azzurqoni Ala Mukhtashor Al kholil, 1/71 [4] HR. Abu Dawud 361, Nasaโ€™i 138. [5] HR. Bukhari 218, Muslim 292. [6] Al Hawi Al Kabir, Al Mawardi, 2/265 [7] Al Muhadzzab, Assyirozi, 1/119 [8] Al Mughni, Ibnu Qudamah, 2/51 [9] Lihat [10] Lihat [11] HR. Bukhari No. 526, dan Muslim No. 543. Illustrasi via iStockphoto โ€” Cara Sholat Orang sakit dan Tidak Bisa Lepas dari Pampers ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ Ustadz, saya mau bertanya. Ayah saya sudah sakit sekitar 1 tahun lebih. Beliau sudah periksa kedokteran, dan hasilnya hanya dinyatakan bahwa beliu sakit asam urat dan kolesterol. Keluhan beliau, kalau menyentuh air dinginnya terasa sampai ke tulang. Beliau telah meninggalkan sholat selama setahun lebih juga, karena banyak alasan. Yaitu, gak bisa menyentuh air, gak bisa tayammum, dan beliau juga pakai pampers karena buang air besar dan buang air kecil keluar sendiri. Yang ingin saya tanyakan Apakah harus ganti pampers setiap akan mengerjakan shalat? Karena takut terkena najis. Bagaimana sikap saya terhadap orang tua saya ketika beliau seperti itu? Disuruh beribadahnya banyak alasan. Syukron, Ustadz. Salam, Fulanah JAWAB ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ Setiap Muslim diberikan kewajiban untuk melaksanakan sholat selagi hayat masih di kandung badan. Selama napas masih berjalan, maka kewajiban sholat mesti ditunaikan. Namun, memang tata cara pelaksanaan sholat itu mengikuti keadaan dan kondisi orang yang mengerjakannya. Nah, bagi pasien yang menggunakan pampers hendaklah menggantinya setiap kali akan melaksanakan sholat, jikalau pampersnya bernajis. Pelaksanaan sholat ketika sakit memang memerlukan usaha yang lebih. Maka sholat bagi pasien ataupun yang sakit parah, sehingga menggunakan pampers, dibolehkan untuk menjamaโ€™ sholatnya. Sehingga, penggunaan dan penggantian pampers dalam satu hari cukup hanya dua kali saja, tidak mesti sampai lima kali. Bagaimana cara melakukannya? Contoh, setelah penggantian pampers pertama dilakukan, maka pasien melaksanakan sholat Zuhur dan Ashar yang dilakukan dengan jamaโ€™ taโ€™khir. Sholatnya tersebut dilaksanakan di akhir waktu Ashar menjelang waktu Maghrib. Kemudian, setelah sholat Zuhur dan Ashar tadi, ia dapat langsung melaksanakan sholat Maghrib dan Isya dengan cara jamaโ€™ taqdim. Itu cara sholat dan penggantian pampers pertama. Penggantian pampers yang kedua dilakukan ketika waktu Subuh. Jadi, cara seperti ini memudahkan orang yang sakit agar tidak mengganti pampers berulang-ulang. Cukup hanya dua kali. Kemudian mengenai tanggung jawab merawat yang sakit adalah merupakan tanggung jawab keluarga atau yang ditugaskan. Maka siapa yang mendapat jatah menjaga, hendaklah memperhatikan dan selalu mengingatkan dengan lemah lembut setiap tiba waktunya sholat. Jikalau masih beralasan dan sebagainya, hendaklah didoakan dan terus diberikan kebaikan dan nasehat yang baik kepada yang sakit. Wallรขhu aโ€™lam bish-showรขb. ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ [Dijawab oleh Ustadz Fauzan Akbar Daulay] .. SahabatMigran ingin berkonsultasi seputar masalah agama Islam dan persoalan kehidupan? Yuk, sampaikan pertanyaannya melalui pesan WhatsApp ke nomor +852 52982419. [DDHKNews] Read Next 2 hari lalu Berkurban pada Yaumun Nahr 4 hari lalu Doa dan Zikir di Arafah 4 hari lalu Tata Cara Wukuf dalam Ibadah Haji 5 hari lalu Waktu dan Tempat Wukuf di Arafah KABAR BANTEN - Solat merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat orang yang sakit saja, sebelum dirinya meninggal dunia, solat adalah kewajiban, apalagi bagi Anda yang kehidupannya masih normal dan begitu sehat. Oleh karenanya, dikatakan bahwa dalam menjalankan ibadah solat, diberikan keringanan atas rukun dan tata cara solatnya bagi orang yang sedang sakit, termasuk bagi orang yang lumpuhpun, solat menjadi kewajiban tetapi tata cara solatnya tentunya berbeda bagi orang yang normal. Berbicara mengenai solat, tentu seseorang mesti dalam keadaan suci dari hadats apapun, bahkan dianjurkan untuk memakai pakaian yang bagus karena akan menghadap sang Pencipta Allah SWT. Baca Juga Terlanjur Melanggar Sumpah Atas Nama Allah? Begini Cara Menebusnya Kata Ustadz Abdul Somad dan Buya Yahya Berdasarkan pantauan dari chanel Youtube Al-Bahjah TV, terdapat jemaah yang menanyakan hukumnya solat dalam keadaan memakai diapers. Dalam pertanyaannya, jemaah tersebut menceritakan keadaan dirinya yang sakit saraf tulang belakang serta lumpuh sehingga dirinya pun memiliki keterbatasan dalam mengontrol pola buang air kecil dan buang air besar sehingga mau tidak mau selalu memakai pampers. Namun, begitu menakjubkannya, berdasarkan apa yang diceritakannya, dia masih menjalankan ibadah solat dan menanyakan hukum solat menggunakan diapers atas keterbatasan yang terjadi padanya. Mendengar hal tersebut, Buya Yahya mengatakan bahwa jemaah yang bertanya tersebut begitu istimewa. "Anda istimewa, kerinduan Anda menjadi pahala, belum lagi sakit Anda menjadi sebab anda memiliki pangkat tinggi di hadapan Allah SWT," ujar Buya Yahya.

shalat orang sakit pakai pampers